Absen No 13
Derap lagkah seorang gadis memecah keheningan malam itu. Seakan tak
mempedulikan hujan yang dari tadi mengguyurnya, gadis itu terus berlari
seakan dikejar-kejar oleh setan. Tetapi yang namanya manusia pasti
mempunyai batas, begitu pula dengan gadis itu yang sepertinya mulai
kehabisan napas. Ia berhenti sejenak di bawah pohon untuk mengatur
napasnya yang memburu. Sayangnya tidak lama kemudian, muncul segerombol
orang yang ternyata mengejarnya dari tadi. Ketika sampai, orang-orang
tersebut justru memukuli si gadis. Bukan hanya dipukuli, tetapi juga
ditampar, ditendang, bahkan dilecehkan. Akhirnya gadis itu tidak sanggup
lagi, ia memejamkan matanya pasrah dan meregang nyawa.

Beberapa
tahun kemudian.........Jam pertama di kelas IX SMP N 5 Cikalongkulon di
awali oleh perkenalan seorang siswi baru. Pak Dede, guru mata pelajaran
pertama mempersilahkan siswi barunya itu untuk memperkenalkan
dirinya.“Selamat pagi semua!!” Sapa siswi baru itu.“Pagi!!!” Balas semua
anak yang ada di kelas IX.“Perkenalkan, nama saya Lina, saya pindahan
dari SMP N 1 Cianjur, semoga kita dapat berteman baik,” Katanya sambil
tersenyum ramah. “Baiklah, Lena, kau boleh duduk di bangkumu sekarang,”
Kata Pak Beno, mempersilahkannya untuk duduk. Lena pun duduk di salah
satu bangku yang belum terisi. Lalu Pak Dede mulai mengabsen mereka.
Ketika Pak Dede mulai membuka absent, anak-anak di kelas mulai gelisah,
seperti ada sesuatu yang membuat mereka cemas. “Andri!” Pak Beno mulai
memanggil nama muridnya satu persatu.“Hadir!”“Aisyah!!”“Hadir, Pak!” Pak
Dede terus memanggil, sampai akhirnya di urutan yang ke-13, entah
kenapa seisi kelas langsung menegang. Mereka semua menunggu nama anak
yang akan dipanggil oleh Pak Dede selanjutnya.“Lina!!!”“Hadir, Pak!!”
Balas Lena. Tetapi tiba-tiba, seisi kelas langsung menatap gadis itu
dengan tatapan ngeri. Lena mengernyitkan dahinya bingung. Linda dan
Saepulloh yang duduk di dekatnya langsung menggeser bangku dan meja
mereka jauh-jauh dari Lina. Lina menatap teman-temannya dengan tatapan
tidak mengerti. Kenapa sih dengan mereka?? Batinnya.
Saat
jam istirahat, Lina yang sedang berjalan-jalan di koridor kelas,
tiba-tiba menginjak sebuah kulit pisang lalu terpeleset dan terjatuh.
Bukannya menolong, teman-teman Lina malah mengerumuninya dan menatapnya
dengan pandangan ngeri. Lina buru-buru bangkit dan langsung pergi dari
tempat itu.Jam ketiga adalah jam olahraga, dan materi olahraga mereka
kali ini voli. Entah sudah berapa kali tadi wajah Lina terkena lemparan
bola. Bahkan saat bertanding, salah seorang teman Lina men-smash bola
dan tepat menganai wajah Lena. Hidung Lina mengeluarkan darah dan dia
pingsan.
Lina tersadar di ruang UKS. Ia melihat seorang
perawat yang kebetulan berada di ruangan itu. “Teh...,” Panggilnya
pelan. Perawat itu mendengar suara Lina dan langsung menoleh ke tempat
sumber suara. “Eh... Adek sudah sadar!” Ucap perawat itu girang. Ia
bangkit dari tempat duduknya dan membawakan Lena nampan berisi semangkuk
bubur dan segelas air putih. “Makan dulu ya,” Kata perawat itu sambil
meletakkan nampannya di meja sebelah tempat tidur Lina.“Ah, iya, terima
kasih...,” Balas Lina, sambil berusaha tersenyum. “Adek tadi pingsan,
untung beberapa teman adek langsung cepat melaporkannya,” Cerita perawat
itu. Lena teringat kejadian saat bermain voli tadi. Iya, dia memang
pingsan, tetapi bukan karena terkena smash, melainkan karena sesuatu
yang lain. Sesuatu yang bahkan mungkin teman-temannya tidak tahu. Saat
jam pertama tadi, ketika pelajaran sudah dimulai, ia selalu merasa ada
orang yang mengamatinya dibelakang, tetapi ketika ia berbalik, tidak ada
siapa-siapa, jelas saja tidak ada, diakan duduk di deretan terakhir.
Lalu saat makan siang di kantin, ia memesan semangkuk bakso, tetapi
ketika ia mau makan, bakso itu berubah menjadi 4 bola mata, bahkan
mienya berubah menjadi cacing kalung yang besar-besar. Lalu saat di
ruang ganti, ketika ia membuka lokernya, ia menemukan mayat didalam
lokernya itu, ia berteriak histeris, tetapi karena tidak ada orang, jadi
tidak ada yang mendengar teriakannya. Saat sedang lari pemanasan, ia
tersandung sesuatu dan ketika dilihatnya ternyata ada sebuah tangan yang
tadi memegang pergelangan kakinya. Dan masih banyak lagi
keanehan-keanehan lainnya. Mungkin itulah yang membuatnya sedikit
stress, karena terlalu banyak berpikir akhirnya ia kecapekan sendiri dan
jatuh pingsan karena ditambah smash bola voli yang cukup kuat.“Adek,”
Panggil perawat itu lagi, membuyarkan lamunan Lena.“Eh, ya.. ad, ada apa
mbak?” Lena gelagapan.“Enggak baik lho ngelamun siang-siang, nanti
kesambet!” Perawat itu menakuti-nakuti Lena. Lena hanya merespon dengan
tawa kecil. Tetapi tidak lama tawanya itu menghilang, wajahnya menjadi
murung dan terlihat cemas.“Maaf mbak ada yang ingin saya tanyakan,” Kata
Lena. “Kenapa rasanya saya hari ini sial terus ya? Bahkan terkadang,
sayang melihat hal yang aneh-aneh.” Wajah perawat itu seketika memucat,
tubuhnya sedikit gemetaran.“Hal yang aneh-aneh? Seperti apa contohnya?”
Tanya perawat itu, ia mulai ketakutan.“Waktu istirahat, saya memesan
bakso di kantin, tetapi ketika saya mau makan, bakso itu berubah menjadi
4 buah bola mata, waktu saya hendak mengganti baju di ruang ganti, saya
melihat mayat di loker saya, dan terakhir ketika pemanasan, pergelangan
kaki saya dipegang oleh tangan aneh sampai saya terjatuh,” Kata Lena.
Perawat itu terlihat gelisah, rasanya ia ingin keluar dari ruang UKS
cepat-cepat, tetapi niat itu di urungkannya karena ia tak tega melihat
kondisi Lena yang menyedihkan. Apa sebaiknya kuceritakan? Batin perawat
itu. Namun akhirnya ia putuskan untuk menceritakannya, tragedi yang
terjadi di SMP N 1 Bimasakti 13 tahun yang lalu. “Adek ingin tahu kenapa
hari ini adek selalu sial?” kata perawat itu. Lena menjawab dengan
anggukan cepat. “13 tahun yang lalu, terjadi tragedi yang cukup
mengenaskan di SMP N 1 Bimasakti ini, saat itu ada seorang gadis yang
sangat tidak beruntung, ia selalu menjadi bahan tertawaan dan ejekan
dari teman-temannya, lalu saat ulang tahunnya yang ke-13, teman-temannya
mengerjainya habis-habisan sehari penuh, entah itu dilempari mercon,
tepung, telur busuk, dikunci dalam kamar mandi, ditukar makan siangnya,
atau pun di tuduh melakukan suatu kejahatan, namun rupanya teman-teman
gadis itu sudah kelewatan, mereka memfitnah gadis itu mencuri uang kakak
kelas mereka, karena marah, kakak kelasnya itu pun menghajarnya
habis-habisan, tetapi gadis itu berhasil melarikan diri, sayangnya tidak
berapa lama kemudian, ia tertangkap lagi dan akhirnya ia meregang nyawa
karena disiksa lebih parah. Tidak tahu harus berbuat apa, kakak kelas
beserta teman-temannya memutuskan untuk mengubur jenazah gadis itu, dan
sampai sekarang, jasadnya belum ditemukan.” Perawat itu mengambil jeda
sebentar lalu melanjutkan kembali. “Sebelum mati, gadis itu bersumpah
untuk membunuh setiap orang yang mendapat absen nomor 13, kenapa begitu?
Itu karena penyebab teman-temannya selalu mengejek dan mengerjainya
adalah karena mereka percaya bahwa angka 13 membawa sial, jadi mereka
ingin membuktikan hal tersebut dengan cara mengucilkan, mengejek, dan
menyiksa orang yang mendapat absen nomor 13 di kelas mereka, dan si
gadis itu kebetulan mendapat nomor absen yang ke-13.” JDAARRR!!!
Tiba-tiba kilat menyambar dan mengagetkan Lena juga perawat itu. Langit
yang tadinya cerah telah berubah menjadi mendung, dan tidak lama
kemudian hujan pun turun. Lampu di ruang UKS tiba-tiba mati. Lena dan
perawat itu ketakutan. Samar-samar mereka mendengar suara rintihan
seseorang. “Tolong... tolong....” Suara itu makin terdengar jelas, dan
tiba-tiba dari bawah ranjang Lena muncul sesosok mahluk, perawat yang
tadi duduk di sebelah Lena langsung menjauh dan menjerit ketakutan.
Mahluk itu berlumurah darah dan wajahnya tidak terlalu jelas karena
lusak, kulit-kulitnya dipenuhi koreng dan luka-luka yang sudah membusuk.
Bau tak sedap pun tercium dari mahluk itu. “Tolong....,” Mahluk itu
berbalik ke tempat Lena berbaring. Lena refelks bangkit, ia berdiri di
atas ranjangnya melempari mahluk itu dengan benda-benda yang ada
disekitarnya. “Hentikan! Hentikan! Jangan bunuh aku!! Aku belum ingin
mati!!!” Lena histeris, ia loncat dari sisi lain ranjang dan berlari ke
tempat si perawat. Mahluk itu tidak mengejar, ia memandang Lena dari
tempatnya berdiri, perlahan-lahan setetes darah jatuh di atas lantai,
mahluk itu menangis darah. “Tolonglah aku.... kuburkanlah jasadku dengan
layak....,” Setelah berkata seperti itu, mahluk itu raib. Lampu yang
tadi mati hidup kembali, tetapi Lena dan perawat itu masih gemetar
ketakutan. Wangi anyer dan amis darah masih membekas di ruangan itu,
bahkan tetesan darah mahluk tadi masih ada di lantai. Perawat itu
akhirnya memberanikan diri untuk bergerak kembali, ia mengambil pel
untuk membersihkan lantai UKS yang kotor. Lena pun ikut memberanikan
dirinya juga, ia berniat untuk membantu si perawat, tetapi ketika hendak
mengelap lantai yang berbecak darah tadi, ia melihat rangkain tulisan
yang berasal dari bercak darah itu, “U... K...S..,” Lena mengejanya.
Tiba-tiba terpampang jawaban di kepalanya. “Mbak! Saya tahu dimana jasad
gadis itu!” Serunya gembira. Perawat itu bengong untuk sesaat, tetapi
kemudian ia terlihat gembira juga.“Benarkah? Dimana??” Tanyanya.“DI
UKS!!!” Jawab Lena. “13 tahun yang lalu disekolah ini belum ada UKS
kan??” Perawat itu diam sebentar untuk berpikir, lalu beberapa saat
kemudian ia menggeleng. “Belum ada!! Mungkin memang dikubur di bawah
ruang UKS!” Lalu keduanya saling bersorak gembira.
Keesokan
harinya, Lena dan perawat di UKS itu meminta tolong kepada kepala
sekolah untuk mengirim tim penyelidik. Dan siangnya tim penyelidik yang
mereka panggil itu menggali di sekitar mahluk itu muncul. Akhirnya
setelah lama menggali, mereka menemukan tulang-belulang yang cukup besar
yang diduga itu adalah tulang badan gadis yang tewas 13 tahun lalu itu.
Bahkan mereka menemukan tengkorak kepalanya dan beberapa benda seperti
jam tangan dan kalung milik gadis itu. Setelah semuanya dikebumikan
dengan layak, Lena melihat samar-samar bayangan yang melambaikan tangan
padanya dan mengucapkan “terima kasih”. Lena tersenyum bahagia dan
membalas melambaikan tangan juga. Dan bayangan itu menghilang..... untuk
selamanya............
No comments:
Post a Comment